Sabtu, 24 Desember 2016

Parasit Manja

Wanita selamanya akan di bawah laki-laki jika yang diurusi hanya kecantikan dan pakaian (Soe Hok Gie)

Ada satu hal yang menggelitik sekaligus meresahkan gue. Kelakuan seorang kenalan yang belum ada sebulan pacaran bercerita kalau dia sedang mencari cara untuk mendapatkan uang dari pacarnya. Mungkin maksudnya morotin.
Lalu gue teringat seorang teman yang kalau pacarnya beli sesuatu gak penting malah disuruh mending beliin dia make up. Bahkan dia juga minta THR ke pacarnya. Lah, emang pacarnya perusahaan.

Melihat kelakuan sejumlah orang sekitar ini tentu menggelitik logika dan perasaan gue.
Lalu gue teringat apa yang Sudjiwo Tedjo pernah bilang, bahwa kemewahan pertama anak itu harus didapat dari orang tua.
Awalnya gue gak mengerti maksud pernyataan ini. Setelah gue pikir dan resapi, iya memang betul. Kalau seorang anak gak dapat kemewahan itu dari orang tua maka mereka akan cari ke tempat lain. Entah menjadi parasit atau mungkin parahnya jadi pelacur.
Gue melihat orang-orang yang menjadi parasit bagi pacar-pacarnya itu gak dapat kepuasan secara materi dari orang tuanya. Jadi mereka cari dari orang lain, ya mungkin dengan punya pacar yang bisa diporotin.

Ketika gue cerita ini ke Mbak-Mbak kantor. Ada perspektif berbeda dari mereka yang sudah menjadi orang tua.
Mungkin bukan kemewahan, karena standardnya beda-beda. Mungkin lebih ke rasa cukup.
Orang tua adalah yang pertama yang harus memberi rasa cukup ke anak-anaknya.
Mbak-mbak yang lain juga menambahkan, kalau masalah seperti ini bukan tentang rasa mewah atau cukup.
Melainkan sebuah nilai untuk mendapatkan sesuatu dari keringat sendiri. Meskipun anak-anak sudah berkecukupan dan hidup mewah tapi ya kalau manja buat apa.
Mereka gak tau atau gak diajarkan untuk mendapatkan sesuatu dari usaha sendiri.
Kalau lo gak dapat sesuatu atau ada yang gak puas ya cari. Usaha sendiri bukannya mengemis atau merengek manja.

Sebagai sesama perempuan, gue miris kalau ngeliat ada perempuan yang seperti itu.
Manja, tidak mandiri dan menjadi parasit laki-laki.
Seenggaknya punya harga diri dikitlah. Pay your own bill!
Kalau isi otak cuma gimana caranya cari duit dari laki buat beli foundation, bb cream, concealer, lipstick dkk dll ya kapan kita majunya.
Pernyataan Soe Hok Gie bahkan masih sangat relevan sampai saat ini.
Kalau begini terus ya kita perempuan ya cuma segini-gini aja, yaitu akan selalu di bawah laki-laki.

Minggu, 13 November 2016

Sepi

Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi (Joko Pinurbo)

Salah seorang sahabat mengeluh kesepian. Di tengah kesibukannya yang luar biasa, mobilitas yang tinggi, dan tidur yang cuma 2-3 jam sehari. Tapi ternyata dia kesepian.
Dia pengen punya pacar, butuh afeksi. Butuh tempat bersandar.

Ketika gue cerita ke sahabat gue yang lain soal ini. Dia langsung nangis, kaget dan gak menyangka kalau sahabat kita yang super sibuk ini ternyata kesepian.

Gue jadi mengingat cerita-cerita orang terdekat tentang kesepian. Ada salah satu sahabat yang awalnya menepi, mencari tempat tinggal supaya bisa sendiri. Terus berpindah, akhirnya sadar kalau dia butuh orang. Dia butuh teman bercerita.

Ada sahabat yang kalau di kamar selalu menghidupkan TV. Supaya ada suara saja, itu alasannya. Supaya tidak merasa kesepian.

We need people. Mungkin ternyata begitu. Terlepas dari kesibukan sepanjang hari. Kita butuh tempat mengadu di penghujung hari.

Tapi sebegitu menakutkankah sepi, sampai semua orang menghindarinya.
Sampai banyak yang rela melakukan apapun agar tidak merasa sepi.
Pasti kita pernah dengar orang yang rela disakiti atau direndahkan agar tidak kehilangan orang itu. Semata-mata agar tidak kesepian.
Pasti ada di antara kita yang bertahan di hubungan yang salah agar tidak sendirian, agar tidak kesepian.
Berapa banyak orang yang masih merasa sepi padahal di tengah keramaian ?
Berapa banyak di antara kita yang tidak masalah mati sendirian ?

Iwan Kurniawan pernah bilang, salah satu ciri utama manusia jaman sekarang adalah kesepian. Jiwanya kosong.
Sibuk setiap hari tanpa jeda tapi sebenarnya kesepian.
Tidak pernah lepas dari gadget padahal itu hanya keramaian palsu.
Joko Pinurbo juga pernah bilang, sepinya kita itu semakin modern.
Mungkin kita yang nampak ramai di media sosial itu cuma palsu. Aselinya gak begitu. Kalau bubaran juga langsung kesepian.

Lalu apa yang salah dengan sepi ?
Pasti rasa itu pernah mampir walau hanya sebentar.
Bukannya harus mati-matian dihindari.
Atau mungkin kita hanya harus belajar, bagaimana caranya menikmati rasa sepi.

Senin, 10 Oktober 2016

Ruang Sendiri

"Jarak itu bisa berarti ruang dan waktu, tapi juga berarti kondisi ketika ia terasa tak bisa didekati." (GM)

Salah seorang sahabat bercerita. Kalau dia senang suaminya gak ada di rumah. Gak ada yang bawelin dia. Gak ada yang komentarin baju yang dia pakai. Dia bebas mau ini itu, mau ke mana, mau ngapain.
Tapi dia ngerasa berdosa. Teman-temannya dia yang sudah menikah bahkan bilang kalau pernikahannya gak beres.
Haha lappet sih ini.
Tapi apa tanggapan gue ?
Ya gak masalah lah, wajar. Itu namanya butuh me time. Gimana coba sama orang yang sama melulu hampir 24 jam. Bukan gak mungkin kita kehilangan diri kita kan.

Bukan sekali ini doang gue dicurhatin sama orang yang butuh waktu sendiri. Orang yang ingin menjauh sejenak, menciptakan jarak.

"Gue pengen gak ada dia sebentar aja, Je. Gue butuh berpikir jernih tanpa ada dia." Ujar salah satu teman gue yang butuh break setelah empat tahun pacaran.

Ini membuat gue bertanya ke salah satu bro sobi yang sudah nikah. Bahwa seseram itukah bareng orang.

"Enggak Jeng. Makanya kalau nikah tetaplah ketemu sama temen lo. Kek gue sama lo gini." Ujarnya.

Sebenarnya kejadian-kejadian kek gini bisa dihindari kalau kita menciptakan jarak itu tadi.
Buat gue, kita itu lahir sebagai makhluk pribadi dulu baru makhluk sosial.
Kita harus temenan sama diri kita dulu. Kita harus isi hidup kita dulu. Baru kita bareng orang lain.
Jangan lupa sama diri sendiri dan malah sibuk sama orang lain.
Jangan lupa kalau kita punya hidup sendiri yang harus kita isi.
Egois ? Jelas tidak.
Ya logika aja, kalau lo aja gak bener sama diri lo. Gimana mau bareng orang lain.

Makanya gue tidak percaya kalau kita itu incomplete sampai harus ketemu orang lain untuk melengkapi diri kita.
No, we are a person. Not half person.

Menurut gue, tiap orang itu punya empat dunia yang dijalani. Pertama, sama dirinya sendiri. Kedua, sama keluarga. Ketiga, sama sahabat. Terakhir, sama pasangan.
Punya pasangan itu gak boleh ngejauhin kita sama sahabat atau keluarga kita. Apalagi sama diri kita sendiri.
Sibuk mengasingkan diri berdua.
Nanti dia pergi, terus lo jadi lupa siapa diri lo. Sad.
Intinya soal priorities. Utopis rasanya kalau bisa balance semua kan.

Gue juga suka sebel kalau ada artikel-artikel percintaan yang ngasi tips gimana caranya cewek bisa blend sama hobi cowoknya.
Karena jawabannya cuma satu.
Get a life bitch!!!
Lo punya hidup sendiri. Lo punya sahabat, lo punya keluarga, kerjaan, hobi. Ya sedih sih kalau gak punya.
Makanya cari. Jangan ngerecokin hidup orang.

Kita memang butuh ruang sendiri. Apapun bentuknya. Lewat hobi atau pekerjaan.
Jarak kadang harus diciptakan untuk menyehatkan.

Kalau kata Tulus di salah satu lagunya, kita masih butuh ruang sendiri-sendiri untuk bisa memahami rasanya sepi.

Selamat mengisi ruang di diri kita sendiri.

Minggu, 11 September 2016

Mengenal Diri

"Terus lo sukanya apa?"
"Lari. Sejak 10 tahun lalu."
"Beruntung ya di usia segini lo sudah tau apa yang lo suka."

Itu adalah dialog yang terjadi di kantor. Pada suatu malam habis gue berlari. Salah seorang teman kantor ngomongin diving dan ngajak gue. Kebetulan gue gak suka, gak mau aja tepatnya.
Tanggapannya lucu juga. Ternyata tau apa yang kita suka menurut orang lain adalah keberuntungan.

Sejalan dengan itu. Baru saja kemarin, gue kumpul dengan sobi-sobi semasa kuliah. Salah seorang sahabat melempar isu.
Kalau dia ngerasa hidupnya kosong. Gak punya trigger buat ngelakuin apapun. Gak tau sukanya apa. Gak tau passionnya apa.
Dari kecil dia selalu ngikut arus.
Milih sekolah, kuliah, termasuk kerjaan.
Beruntungnya dia selalu dapat yg bagus-bagus.
Apapun yang dikasi ke dia, dia kerjain. Hidupnya seperti itu.
Tapi dia pengen banget tau yang dia suka apa. Dia ngerasa pasti beda banget rasanya ngelakuin sesuatu atas dasar suka.

"Lo kalau tanya gue di mana gue 5 tahun lagi? Gue gak tau. Bahkan kalau gue gak ada juga gak apa-apa. Gue butuh sebuah alasan paling enggak buat hidup aja."

Seorang sahabat lainnya menimpali. Kalau dia juga gak tau sukanya apa. Tapi dia tau banget bahwa pekerjaannya saat ini bukan dia banget. Dia ngasi target kapan harus resign. Sekarang dia lagi mikir dan nyari tau maunya apa.

Apa tanggapan gue ? Ya cari. Passion itu gak mungkin random kan.
Gue gak mungkin tiba-tiba bangun di pagi hari terus suka socio legal.
Ya asalnya dari nyoba segala bidang waktu kuliah.
Gue juga gak mungkin lagi pup terus tiba-tiba suka lari.
Ya asalnya dari nyoba segala jenis olahraga waktu kecil.
Gue juga gak mungkin waktu SD sudah tau kalau besar nanti ingin jadi peneliti hukum.

Intinya ya cari. Terus mencari apa yang kita suka. Apa yang kita banget. Prosesnya mungkin beda-beda di tiap orang. Ada yang lama dan ada yang sebentar.
Tapi percayalah itu semua gak mungkin random.
Jadi gak mungkin tiba-tiba lo suka sesuatu. Itu pasti hasil dari pencarian.
Dari kecil kita sudah dihadapkan dengan berbagai pilihan. Kita belajar untuk memilih.
Mau sekolah di mana, les apa, atau kuliah apa.
Kita belajar untuk memilih berikut alasan dan konsekuensi logisnya.
Gue juga benci kalau orang ngerasa gak punya pilihan dalam hidupnya.
Kita semua punya pilihan, selalu. Mungkin lo takut aja buat milih.
If you don't like where you are, move. You are not a tree.

Kalau kata temen gue yg Psikolog Pendidikan, decision making itu penting banget dari kecil.
Kalau orang tua sudah mengajarkan anaknya untuk mengambil keputusan sejak kecil. Hal-hal seperti yang gue ceritakan tadi akan bisa dihindari.
Ketika orang tua memberi kebebasan bagi si anak untuk memilih. Tanyakan kenapa dan jelaskan apa konsekuensi logisnya.
Gue jadi inget salah satu sahabat yang sejak kecil dari sprei, gorden, sampai baju dipilihin sama orang tuanya.
Jadinya ketika besar dia kesusahan milih sesuatu dalam hidupnya. Dia sulit untuk memutuskan hal-hal yang terjadi di dirinya.
Tapi rasanya, sungguh tidak pantas untuk menyalahkan parenting method dari orang tua kita di usia segini.

Semakin kita kenal diri kita. Akan sangat gampang bagi kita untuk memutuskan sesuatu di diri kita.

Karena katanya Presiden Jancukers, yang ikut arus itu cuma bangkai, sampah, dan eek.

Minggu, 04 September 2016

Ibu-Ibu Nyinyir

Sibuk dan jatuh cintalah. Sehingga mulut dan tingkah lakumu gak mampu nyakitin orang lain. (Tommy Prabowo)

Ada beberapa kejadian yang menimpa gue saat bersinggungan dengan sekumpulan Ibu-Ibu nyinyir. Sehingga gue gatel buat diskusi lalu menulis tentang ini.

Mereka, ibu-ibu nyinyir ini ada aja yang komentar. Mulai dari fisik laki orang, kerjaan orang, bahkan kehidupan rumah tangga orang.
Asahan mulutnya gue rasa tajem banget sih sampai mudah banget rasanya ngina orang lain.
"Jelek banget sih pacarnya si itu hahaha"
"Ah nikahnya kemudaan sih jadi gitu kan..."
"Bego banget deh dia resign, mau dikasi makan apa isterinya"

Selalu dan akan selalu ada saja komentar mereka, tapi dari sisi negatif. Rasanya gak ada sisi positif yg bisa mereka lihat dari seseorang.
Semua orang bisa jadi korban mereka, baik dekat ataupun tidak.

Gue bingung kenapa mayoritas perempuan keknya kalau jadi Ibu-Ibu jadi nyinyir. Mereka berubah jadi rempong dan suka berkomentar jahat.
Bahkan mereka gampang banget mengejek sesama perempuan. Bukan karena memiliki latar belakang sama, jadi paling mengerti ya seharusnya.

Gue inget banget kejadian waktu Happy Salma post foto sama Cok Gus di Instagram. Tetep aja ada yg komen, "alisnya gak rapi ya"
Oh come on, itu orang sudah cantik banget ditambah suaminya ganteng banget gitu dan masih ada aja yg comment jahat yak.
Pernah juga seorang sutradara post foto sahabat ceweknya di instagram terus minta pendapat gimana kira-kira cewek ini. Komentar jahanam malah justru keluar dari perempuan.
"Bitch banget...."
"Ih kek pecun"

Temen gue bahkan ada yang gak mau foto Pre Wed karena gak mau ibu-ibu nyinyir komentar. Karena dia yakin akan pasti ada saja hal yang gak sempurna yang dilihat para ibu-ibu akan pilihan suaminya.

Sebagian dari kita pasti ada yg pernah lihat meme yang kurang lebih bilang "waspadalah sehabis nikah di gedung, pilihan asi atau susu formula akan jadi bahan gunjingan selanjutnya"
Seolah gak ada yang bisa lepas dari komentar ibu-ibu nyinyir ini.

Apa sebenarnya yang terjadi sama sejumlah Ibu-Ibu Nyinyir Indonesia ini ?
Kalau dari hasil ngobrol gue sama sejumlah orang. Ada yang bilang karena mereka tidak punya kultur memuji.
Sulit sekali buat mereka memuji sesama perempuan. Ada yang pakai make up dikit langsung dikatain menor apa segala macem. Padahal gue yakin maksudnya bukan itu. Mereka mau bilang cakep, kok beda gitu. Tapi gak keluar aja dari mulutnya. Padahal kalau mereka didandanin juga pasti seneng sih.

Ada juga yang bilang karena mereka sebenarnya sedang menertawakan nasib atau ketidak beruntungan mereka sendiri. Mereka ngatain fisik laki orang, mungkin karena miris kok gak dapet yang macam begitu.

Mereka mungkin juga gak puas sama hidupnya sekarang. Jadi sibuk nyinyirin hidup orang lain. Gue percaya orang kalau bahagia sama hidupnya, kecil kemungkinan nyakitin orang lain.

Heran aja, kenapa sesama perempuan kok saling menyakiti. Malah saling merendahkan kaumnya sendiri. Bahkan kalau gue liat Mas-Mas sekitaran gue lebih bisa supportive dan gak judgemental atas hidup orang lain.

Sekumpulan ibu-ibu nyinyir ini sungguh merusak perdamaian. Rasanya sulit ketemu ibu-ibu asik dan seru gitu di jaman sekarang. Entah dari berbagai alasan di atas tadi, mana yang paling cucok.

Atau mungkin mereka ternyata hanya kurang kelon....

Sabtu, 20 Agustus 2016

Memaksa Kembali

Karena dapat orang tua yang percaya sama anaknya itu anugerah.

"Temen-temen Bali lo ke mana semua Nyak?"
Pertanyaan dari salah satu teman ini, kemudian juga menjadi pertanyaan ke diri gue sendiri. Ya, kemana teman-teman sesama perantauan Bali gue sekarang ya ? Karena terlihat gue gak pernah lagi bareng mereka.

Ada sejumlah teman bahkan jadi sahabat karena sama-sama menuntut ilmu di kota yang sama. Pergi dari Bali, merantau, tinggal bareng, dan memupuk mimpi bersama.
Selepas kuliah semua punya jalannya masing-masing. Ada yang lanjut master, ada yang kerja kek gue, yang nikah juga ada.
Terus gue sadar kalau tinggal gue sendiri doang di Jakarta. Sisanya kemana ? Setelah gue inventarisir, ternyata pada pulang kampung. Gue ingat baik-baik alasan mereka kenapa balik kampung. Ternyata karena orang tua.

Orang tua mereka secara gak langsung memaksa anaknya pulang. Jangan kerja di Jakarta. Di Bali aja. Banyak alasannya. Seperti, supaya gak nikah sama orang sana lah, supaya bisa bantu kewajiban adat dan agama di rumah lah. Atau supaya tetap bisa dikontrol aja.
Gue ? Bahkan gak boleh pulang. Nikah sama siapa aja boleh. Kerja apa juga yang penting bahagia.

Jujur gue kecewa sekali dengan teman-teman gue yang pada balik kampung. Bukannya gak boleh membangun tanah kelahiran. Boleh banget. Asal memang dari keinginannya sendiri. Bukan karena orang tua yang suruh.

Ternyata orang-orang dewasa itu buat anak supaya bisa ditaruhin mimpi-mimpi mereka. Supaya nemenin mereka ketika tua, bantuin mereka. Egois.

Ada temen gue yang ditarik pulang karena orang tuanya takut nanti anaknya nikah sama yang bukan Bali, terus pindah agama.
Ada temen gue yang tiap ditelfon ditanyain kapan pulang karena disuruh bantu-bantu di rumah.
Ada juga temen gue yang sudah diatur segala macam masa depannya di Bali termasuk jodoh dan kerjaan. Karena orang tuanya gak percaya sama anaknya. Ya mana tau anaknya gak bisa struggling di Jakarta.

Para orang tua itu pasti bilang gini "Gak ada yang lebih nyaman selain di rumah."
Tapi rumah bisa kita buat sendiri Om dan Tante. Kita bisa buat keluarga baru, kita bisa menemukan makna rumah di mana pun. Bukan sekadar di mana kita lahir dan dibesarkan.

Gue bukannya ingin teman-teman gue jadi anak durhaka yang ngelawan orang tua. Cuma ingin mereka bisa merdeka memilih jalan hidupnya sendiri.
Gue dibuat geleng kepala dengan tingkah pola orang tua teman-teman gue. Membatasi anaknya, diatur seperti boneka, tidak percaya pada kemampuan mereka. Padahal sudah dewasa. Padahal mereka orang-orang berpendidikan, terpandanglah di Bali.
Mungkin ini juga dipengaruhi kultur. Sepanjang pengamatan gue, teman-teman yang dari Sumatera, Jawa, dan pulau lain jarang orang tuanya minta anaknya pulang. Selama kuliah aja, kalau libur semester gak balik kampung juga gak masalah.

Lalu gue nanya ke Bape, "kenapa saya gak pernah ditarik pulang?"
Jawabannya, karena anak cuma titipan. Gue sudah besar, silahkan pilih jalan hidup sendiri. Beliau percaya gue seutuhnya.

Ternyata, kebebasan untuk menjadi diri sendiri itu mahal harganya.

Tapi yah, what do I know ? I am not a parent.

Jumat, 05 Agustus 2016

Pengganti

Everyone is replaceable Je, katanya.

Ada seseorang yang bilang ini ke gue. Katanya supaya gak baperan. Supaya gak mudah tunduk atau menyerah ke orang lain.
Gue jadi percaya. Gue menganggap, yaaa kalau temen gue yang ini pergi nanti juga dateng yang ono. Yaaaa, kalau putus sama yang ini nanti juga ada gantinya.

Sampai kemudian beberapa bulan lalu dia pergi. Bukan, bukan pacar, gebetan, atau semacamnya. Tapi salah seorang sahabat di kantor.
Ceritanya kami itu beda sekali. Dia introvert, gue ekstrovert. Dia gak punya banyak teman di kantor, sedangkan gue temenan sama banyak orang.
Tapi apa yang menyatukan kami? I don't know. Ngopi-ngopi jam 3 sore di kantin yang melahirkan banyak cerita. Atau juga nasi jinggo dan lele bakar di malam hari yang berujung curhatan.
Soal hal-hal berat masa lalu, kerjaan, mimpi, juga soal hal remeh temeh lainnya.
Rasanya gue sanggup ngejalanin pahit-pahitnya ini kantor dan berat-beratnya kerjaan karena punya temen cerita, ya dia ini.

Sampai akhirnya dia bilang mau resign. Gue masih berpikir ya tinggal cari pengganti temen cerita. Gue putar otak, nyatanya gak ada. Gak ada penggantinya.
Tidak ada yang bisa mengerti persis apa yang gue rasakan di kantor ini. Tidak ada lagi teman berbagi mimpi soal bidang penelitian.
Begitupun dia.
Mencoret tiap tanggal di kalender, menghitung mundur kepergiannya. Lucu.
Tidak pernah melewatkan barang sekalipun kopi sore di detik-detik hari terakhirnya.
Lalu dia benar-benar pergi. Gue merasa oleng. Tepat ketika lagu All I Ask-Adelle sedang booming. Persis jadi latar kisah kami.
Sampai gue duduk di cube dia dulu, supaya gue masih merasa dia ada. Ini lucu.
Sekarang sudah sekitar empat bulan dia pergi. Persahabatan kami tidak putus. Dia masih suka jemput ke kantor sembunyi-sembunyi buat kita ngobrol di sore hari. Gue masih suka ke rumahnya untuk cerita. Kalau chat sih jangan ditanya.
Gue tidak menemukan pengganti, gue juga tidak berniat mencari pengganti. Ternyata tidak semua orang bisa diganti. Sahabat gue ini tidak tergantikan.
Dia masih yang paling mengerti soal pekerjaan ini. Dia masih orang yang paling pertama akan gue hubungi soal perasaan gue di kantor.

Kehilangan mengajarkan banyak hal.
Soal menghargai...
Memahami waktu...
Juga tentang rendah hati.
Tuhan ingin bilang lewat cara yang manis sekali.
Bahwa tidak semua orang bisa tergantikan.

*Saat matahari mulai pamit di Bima, NTB