Bekerja di media yang berjiwa petualang, ngebuat orang-orang kantor gue gak peduli penampilan. Itu di mata gue ya. Biasanya orang ke kantor rapi pake sepatu, kemeja, celana bahan. Boro-boro dah. Mostly mereka pake kaos, jeans, sepatu atau sandal gunung. Buat gue yang baru aja keluar dari kampus yang sangat menjunjung tinggi penampilan, tentu hal ini membuat gue shock.
Gak ada lah itu cewek nyatok apalagi hair dryer rambut. Disini rambut tinggal diuwel-uwel, wajah pun no make up.
Kalau penampilan gue kayak gitu di kampus. Hujatan dari peer group pasti kenceng banget. Kalimat yang paling sering keluar adalah "gimana mau dapet jodoh kalau penampilan lo kaya gini". Judgment seperti ini membuat gue berpikir, harus all out banget lah tiap hari. Kita suka gak tau kan bakal ketemu siapa nantinya. Harus behave lahhh...harus ini lah...harus itulah...
Namun setelah gue mausk kantor ini, yang penampilannya seperti yang gue gambarkan diatas. Gue mikir, mereka dapet-dapet aja jodoh dengan penampilan kayak gitu. Bahkan ada stau Mbak di kantor yang wardrobe nya selalu kayak mau manjat gunung. Doi banyak yang ngincer di kantor.
Hal ini ngebuat gue sadar, kalau setiap orang itu punya marketnya sendiri-sendiri. Kita gak bisa being universally attractive. Human prefrence tiap orang kan beda-beda. Mungkin Mbak kantor gue yang style nya anak gunung super menarik di mata cowok-cowok kantor. Ya karena kantor gue berjiwa petualang. Mungkin juga Mbak kantor gue gak menarik di mata cowok-cowok Sudirman-Kuningan sono. Begitu juga dengan Mbak-mbak Sudirman-Thamrin-Kuningan gak menarik buat mas-mas kantor gue haha.
Intinya sih just be your self aja. Jangan sedih atau terpuruk kalau gak menarik di mata satu orang. Bisa aja kan kita bukan tipenya dia. Percaya aja sih, bakal ada yang suka kita apa adanya :D. Kalau emang kita kaya gitu, ya kaya gitu aja kan?
Selasa, 04 November 2014
Minggu, 26 Oktober 2014
ungkit-ungkit
Gue dan salah seorang teman kantor berencana nonton film di bioskop di sela dinas luar kota. Berhubung ada film yang emang gue pengen buat ditonton, jadi gue bilang aja mau nonton film xxxx. Terserah si teman mau setuju atau enggak pokoknya gue mau nonton film itu. Dia ternyata mau aja nonton film yang gue pilih. Yasudah, kami jadi nonton film itu.
Begitu sampai di kantor, kami bercerita soal kegiatan selama dinas luar kota dan sampai di acara nonton film itu. Ternyata si teman gue itu bilang ke orang-orang "ya dia pengen nonton film itu, gue sih sebagai orang tua ngalah aja" Kalimat itu menyadarkan gue kalau ternyata dia merasa telah berkorban. Dia merasa bahwa tindakannya yang mau menonton film yang gue pilih adalah bentuk pengorbanan.
Kejadian ini membuat gue sadar, ohh...ternyata ada tipe orang yang selalu mengungkit-ungkit pengorbanan yang dia lakukan. Cukup tau aja sih. Tanpa orang yang merasa berkorban itu tau, kalau pihak lawan juga bisa merasa seperti itu. Tapi gak mengungkitnya aja. Yah, namanya juga berhubungan sama orang lain. Ada yang namanya kompromi. Gak selalu soal diri sendiri aja. Kalau mau itung-itungan pengorbanan yang dilakukan sih rebek jadinya. Apalagi pakai ngungkit.
Begitu sampai di kantor, kami bercerita soal kegiatan selama dinas luar kota dan sampai di acara nonton film itu. Ternyata si teman gue itu bilang ke orang-orang "ya dia pengen nonton film itu, gue sih sebagai orang tua ngalah aja" Kalimat itu menyadarkan gue kalau ternyata dia merasa telah berkorban. Dia merasa bahwa tindakannya yang mau menonton film yang gue pilih adalah bentuk pengorbanan.
Kejadian ini membuat gue sadar, ohh...ternyata ada tipe orang yang selalu mengungkit-ungkit pengorbanan yang dia lakukan. Cukup tau aja sih. Tanpa orang yang merasa berkorban itu tau, kalau pihak lawan juga bisa merasa seperti itu. Tapi gak mengungkitnya aja. Yah, namanya juga berhubungan sama orang lain. Ada yang namanya kompromi. Gak selalu soal diri sendiri aja. Kalau mau itung-itungan pengorbanan yang dilakukan sih rebek jadinya. Apalagi pakai ngungkit.
Langganan:
Postingan (Atom)