Sabtu, 20 Agustus 2016

Memaksa Kembali

Karena dapat orang tua yang percaya sama anaknya itu anugerah.

"Temen-temen Bali lo ke mana semua Nyak?"
Pertanyaan dari salah satu teman ini, kemudian juga menjadi pertanyaan ke diri gue sendiri. Ya, kemana teman-teman sesama perantauan Bali gue sekarang ya ? Karena terlihat gue gak pernah lagi bareng mereka.

Ada sejumlah teman bahkan jadi sahabat karena sama-sama menuntut ilmu di kota yang sama. Pergi dari Bali, merantau, tinggal bareng, dan memupuk mimpi bersama.
Selepas kuliah semua punya jalannya masing-masing. Ada yang lanjut master, ada yang kerja kek gue, yang nikah juga ada.
Terus gue sadar kalau tinggal gue sendiri doang di Jakarta. Sisanya kemana ? Setelah gue inventarisir, ternyata pada pulang kampung. Gue ingat baik-baik alasan mereka kenapa balik kampung. Ternyata karena orang tua.

Orang tua mereka secara gak langsung memaksa anaknya pulang. Jangan kerja di Jakarta. Di Bali aja. Banyak alasannya. Seperti, supaya gak nikah sama orang sana lah, supaya bisa bantu kewajiban adat dan agama di rumah lah. Atau supaya tetap bisa dikontrol aja.
Gue ? Bahkan gak boleh pulang. Nikah sama siapa aja boleh. Kerja apa juga yang penting bahagia.

Jujur gue kecewa sekali dengan teman-teman gue yang pada balik kampung. Bukannya gak boleh membangun tanah kelahiran. Boleh banget. Asal memang dari keinginannya sendiri. Bukan karena orang tua yang suruh.

Ternyata orang-orang dewasa itu buat anak supaya bisa ditaruhin mimpi-mimpi mereka. Supaya nemenin mereka ketika tua, bantuin mereka. Egois.

Ada temen gue yang ditarik pulang karena orang tuanya takut nanti anaknya nikah sama yang bukan Bali, terus pindah agama.
Ada temen gue yang tiap ditelfon ditanyain kapan pulang karena disuruh bantu-bantu di rumah.
Ada juga temen gue yang sudah diatur segala macam masa depannya di Bali termasuk jodoh dan kerjaan. Karena orang tuanya gak percaya sama anaknya. Ya mana tau anaknya gak bisa struggling di Jakarta.

Para orang tua itu pasti bilang gini "Gak ada yang lebih nyaman selain di rumah."
Tapi rumah bisa kita buat sendiri Om dan Tante. Kita bisa buat keluarga baru, kita bisa menemukan makna rumah di mana pun. Bukan sekadar di mana kita lahir dan dibesarkan.

Gue bukannya ingin teman-teman gue jadi anak durhaka yang ngelawan orang tua. Cuma ingin mereka bisa merdeka memilih jalan hidupnya sendiri.
Gue dibuat geleng kepala dengan tingkah pola orang tua teman-teman gue. Membatasi anaknya, diatur seperti boneka, tidak percaya pada kemampuan mereka. Padahal sudah dewasa. Padahal mereka orang-orang berpendidikan, terpandanglah di Bali.
Mungkin ini juga dipengaruhi kultur. Sepanjang pengamatan gue, teman-teman yang dari Sumatera, Jawa, dan pulau lain jarang orang tuanya minta anaknya pulang. Selama kuliah aja, kalau libur semester gak balik kampung juga gak masalah.

Lalu gue nanya ke Bape, "kenapa saya gak pernah ditarik pulang?"
Jawabannya, karena anak cuma titipan. Gue sudah besar, silahkan pilih jalan hidup sendiri. Beliau percaya gue seutuhnya.

Ternyata, kebebasan untuk menjadi diri sendiri itu mahal harganya.

Tapi yah, what do I know ? I am not a parent.

Jumat, 05 Agustus 2016

Pengganti

Everyone is replaceable Je, katanya.

Ada seseorang yang bilang ini ke gue. Katanya supaya gak baperan. Supaya gak mudah tunduk atau menyerah ke orang lain.
Gue jadi percaya. Gue menganggap, yaaa kalau temen gue yang ini pergi nanti juga dateng yang ono. Yaaaa, kalau putus sama yang ini nanti juga ada gantinya.

Sampai kemudian beberapa bulan lalu dia pergi. Bukan, bukan pacar, gebetan, atau semacamnya. Tapi salah seorang sahabat di kantor.
Ceritanya kami itu beda sekali. Dia introvert, gue ekstrovert. Dia gak punya banyak teman di kantor, sedangkan gue temenan sama banyak orang.
Tapi apa yang menyatukan kami? I don't know. Ngopi-ngopi jam 3 sore di kantin yang melahirkan banyak cerita. Atau juga nasi jinggo dan lele bakar di malam hari yang berujung curhatan.
Soal hal-hal berat masa lalu, kerjaan, mimpi, juga soal hal remeh temeh lainnya.
Rasanya gue sanggup ngejalanin pahit-pahitnya ini kantor dan berat-beratnya kerjaan karena punya temen cerita, ya dia ini.

Sampai akhirnya dia bilang mau resign. Gue masih berpikir ya tinggal cari pengganti temen cerita. Gue putar otak, nyatanya gak ada. Gak ada penggantinya.
Tidak ada yang bisa mengerti persis apa yang gue rasakan di kantor ini. Tidak ada lagi teman berbagi mimpi soal bidang penelitian.
Begitupun dia.
Mencoret tiap tanggal di kalender, menghitung mundur kepergiannya. Lucu.
Tidak pernah melewatkan barang sekalipun kopi sore di detik-detik hari terakhirnya.
Lalu dia benar-benar pergi. Gue merasa oleng. Tepat ketika lagu All I Ask-Adelle sedang booming. Persis jadi latar kisah kami.
Sampai gue duduk di cube dia dulu, supaya gue masih merasa dia ada. Ini lucu.
Sekarang sudah sekitar empat bulan dia pergi. Persahabatan kami tidak putus. Dia masih suka jemput ke kantor sembunyi-sembunyi buat kita ngobrol di sore hari. Gue masih suka ke rumahnya untuk cerita. Kalau chat sih jangan ditanya.
Gue tidak menemukan pengganti, gue juga tidak berniat mencari pengganti. Ternyata tidak semua orang bisa diganti. Sahabat gue ini tidak tergantikan.
Dia masih yang paling mengerti soal pekerjaan ini. Dia masih orang yang paling pertama akan gue hubungi soal perasaan gue di kantor.

Kehilangan mengajarkan banyak hal.
Soal menghargai...
Memahami waktu...
Juga tentang rendah hati.
Tuhan ingin bilang lewat cara yang manis sekali.
Bahwa tidak semua orang bisa tergantikan.

*Saat matahari mulai pamit di Bima, NTB

Selasa, 05 Juli 2016

Pengakuan dan Kelakuan

Seorang sahabat bercerita, rencananya setelah lebaran dia akan menggunakan jilbab.
Lalu gue diam...speechless haha.
Respon pertama gue adalah menanyakan alasannya apa.
Dia menjawab tidak ada alasan.
Lalu gue bilang, kalau katanya Bape dalam hal apapun harus punya alasan. Jadi kalau kita goyah atau melenceng bisa kembali ke alasan tersebut. Tapi di satu sisi gue menambahkan, pasti ada beberapa keputusan dalam hidup kita yang tanpa alasan, karena pengen aja.

Lalu dia menjelaskan semuanya.

Hal yang gue bilang adalah, yang penting kamu bahagia. Apapun keputusanmu. Apapun langkah yang ingin kamu ambil dalam hidupmu. Aku gak peduli apakah itu perintah Tuhan atau kitab suci. I will support you, yang penting kamu yakin, percaya, dan bahagia.

Paling menyentuh sampai gue ingin menulis ini adalah tanggapannya.
"Aku seneng deh, kenapa kamu yang bukan Muslim malah lebih bisa nerima keputusanku dibanding sahabat or saudaraku yg Muslim."

Gue tersenyum

"Aku gak pernah tau agamamu apa. Aku gak pernah liat kamu sembahyang. Menurutku, kamu gak dekat dengan Tuhan. Tapi kenapa justru kamu yang bisa menanggapi soal ini dengan lebih baik."

Apa jawaban gue?

Karena kita gak butuh agama kalau hanya soal beginian. Kita butuhnya pikiran yang terbuka. Gak ada hubungannya seagama atau gak. Kalau pikirannya sempit, mau hapal kitab suci juga percuma.
Karena gue gak terikat dengan agama apapun that's why gue gak punya prejudice atas sikap-sikap semacam ini.

Sesungguhnya gue agak miris. Masih ada saja orang berpendidikan memandang orang hanya dari rajinkah dia sembahyang atau suka nyebut ayat sucikah dia . Lagi pula, dari mana taunya orang itu dekat sama Tuhan or enggak. Cuma dari rajin ibadah?
Itu semua gak linear sayang. Religion is an illusion.
Pemuka agama juga ada yang memperkosa kok. Orang atheis juga banyak yang rajin menolong orang lain.
Beragama gak menjamin kamu orang baik. Begitu pula sebaiknya.
Semoga di hari yang fitri ini, kita gak beragama cuma di seremoni semata. Tapi juga tercermin di perilaku.
Karena dalam hidup yang penting itu kelakuan. Bukannya pengakuan.

*Soekarno-Hatta di kala Lebaran

Rabu, 22 Juni 2016

Mereka yang Mendobrak

Dengan apa harus ku bayar hutang rasaku? (Sudjiwo Tedjo)

Ada berbagai macam jenis hutang selama kita hidup. Hutang uang tinggal dibayar dengan uang. Hutang budi juga tinggal dibalas dengan perbuatan. Tapi bagaimana dengan hutang perasaan ?
Salah satu hutang yang sampai saat ini belum bisa gue bayar kepada mereka. Iya, hutang perasaan.

Ceritanya dulu gue individualis sekali. Introvert parah, tidak suka berteman dekat, tidak suka kerja dalam team, tidak suka bareng orang intinya.
Alasannya, kehadiran orang lain pasti akan mengacaukan hidup gue. Mimpi gue akan terganggu jika punya teman. Gue akan cenderung memilih bermain dengan teman dan melupakan ambisi. Begitu kata beliau, sehingga gue tidak pernah benar-benar punya teman.

Sampai ketika gue tidak tinggal di rumah lagi. Lalu bertemu beberapa orang yang kemudian membentuk kelompok termasuk gue di dalamnya.
Mereka mengajak makan di kantin sepulang kuliah. Menurut gue ini sangat aneh. Untuk apa duduk ngobrol gak jelas gitu? Lebih baik pulang dan belajar atau sendiri membaca novel.
Lalu mereka mengajak belajar bareng untuk ujian. Ini juga gue anggap aneh, kenapa harus bareng kan bisa belajar sendiri.
Pulang kuliah nempel terus, ngobrol gak jelas sampai malam. Risih sekali rasanya dulu. Makan ditemenin, pergi ke perpus ditemenin. Bahkan gue sampai mengubah jadwal lari dari pagi ke sore untuk menghindari mereka. Nyatanya mereka tidak pergi juga.

Tidak cukup dengan semua itu. Gue harus tinggal seatap dengan orang-orang baru. Berkompromi, berinteraksi, diberi intervensi supaya tetap damai.

Mungkin gue tidak bisa menghindar selamanya. Salah seorang anggota kelompok sedang mengikuti lomba dan semuanya datang menonton memberi semangat, kecuali gue.
"Nyak, kenapa gak datang kemarin?" tanyanya.
"Oh, gue ada urusan di rumah tante gue." Jawab gue bohong, padahal hanya mengungsi ingin baca novel.
"Yahhh, padahal kan gue lomba. Semuanya datang kecuali lo."

Iya, kesannya gue jahat sekali. Sungguh bukan maksud seperti itu. Gue hanya gak tahu berteman itu seperti apa. Gue gak tahu kalau berteman itu saling mendukung, saling menemani satu sama lain.

Di bawah satu atap itu gue juga kena intervensi. Si dominan yang tidak pernah mau kalah dan mendengarkan orang lain.

Gue cuma gak tahu kalau temenan itu berarti mendengarkan. Kalau temenan itu juga belajar untuk mengalah. Tidak ada yang menang atau kalah. Tidak semua hal adalah kompetisi.

Akhirnya gue memutuskan untuk berani berteman.

Gue mulai ikut duduk di kantin sepulang kuliah. Kami ngobrol banyak hal, tertawa sampai nangis. Ternyata ini menyenangkan.
Gue mulai minta ditemenin belanja atau ke perpus. Ini juga menyenangkan.
Gue ajak mereka nonton gue lomba. Mereka bantu ketika persiapan. Mereka duduk di bangku penonton. Senyum, menyemangati, dengerin cerita gue setelah lomba. Ternyata ini sangat menyenangkan.

Di bawah satu atap itu, gue belajar mendengarkan. Enak juga dua daun telinga ini lebih banyak berfungsi.

Sendiri memang enak, tapi bareng-bareng juga sama enaknya.
Mungkin punya teman adalah cara gue menuju dewasa.
Gue belajar mendukung.
Gue belajar berbagi dan mengalah.
Gue belajar mendengarkan.
Gue belajar menerima kekurangan orang lain.
Terpenting, gue belajar untuk lebih perasa.

Sebuah persahabatan akan menghantarkan ke persahabatan-persahabatan selanjutnya.
Gue jadi banyak punya sahabat baru sekarang.
Terimakasih untuk kalian yang dulu tidak pernah pergi, untuk kalian yang telah mendobrak benteng ini. Juga untuk kalian yang kemudian hadir.

*Pekalongan-Purwakarta. Kamandaka/239.

Sabtu, 21 Mei 2016

Generasi Kebelet Nikah

Baru saja ketemu teman rock star, sesama gadis ambi yang juga feminist.
Banyak topik yang kami bahas, perdebatkan hingga menarik simpulan. Salah satunya tentang keheranan kami kenapa begitu banyak teman-teman seumuran yang galau bet pengen nikah.
Kami bahas teman-teman kami yang sudah menikah, berikut alasannya. Gue memang selalu bertanya alasan menikah ke teman-teman terdekat.
Ada yang menikah karena ngerasa kuat bersama. Dia ngerasa lebih kuat aja buat ngejalanin hidup ke depannya sama suaminya.
Lalu gue mikir, kenapa kita harus bareng orang ya buat jadi kuat ? Gak bisakah kita kuat dengan diri kita sendiri saja ?
Paling lucu ada teman yang pengen nikah karena ingin ke luar dari rumah. Ini sih gawat ya. Cara ke luar dari rumah kan banyak. Sekolah atau kerja yang jauh misalnya. Kenapa jadi mengambil pilihan yang sangat beresiko buat masalah yang sederhana seperti tidak ingin tinggal di rumah.
Bisa jadi sebenarnya dia juga takut ke luar rumah. Gak berani ambil resiko dengan tinggal sendiri. Kalau nikah dia bisa ke luar rumah tapi bareng orang lain dan bisa bersandar.
Trust me, takut sendiri is the root of most bad choices in life.
Alasan paling common adalah supaya halal. Sebagai orang yang tidak religius gue paling susah bisa nerima alasan ini. Jadi lo nikah buat melegalkan seks doang. Buset picik banget.
Riset berkata, usia paling pas untuk perempuan menikah adalah sekitar 25 tahun. Sedangkan pria menuju 30 tahun. Karena di usia segini baik pria dan wanita otaknya gak cuma nafsu doang. Jadi menikahnya bukan karena nafsu semata.
Mungkin riset ini bisa jadi pertimbangan.
Banyak sekali teman-teman terutama perempuan yang kalau tiap kumpul bahasannya pengen nikah melulu. Seolah tidak ada topik lain. Nikah itu boleh kok. Silahkan saja. Tapi bisa kan gak sampai gila ngebetnya.
Kenapa sih rasanya nikah itu harus banget ? Gak bisa santai aja gitu.
Ada artikel yang pernah ngebahas ini, menurut penulisnya karena kita terbuai sama cerita dongeng Cinderella yang ketemu pangeran tampan lalu hidup bahagia.
Menurut gue ada yang lebih mendasar dari sekedar pengaruh media.
Jawabannya adalah keluarga.
Budaya ketimuran ini selalu memandang pencapaian hidup, terutama perempuan itu dari penerimaan oleh orang lain.
Itu mengapa image "perawan tua" gak banget di negara ini.
Itu kenapa punya pasangan rasanya membanggakan sekali.
Maka label "laku" jadi penting.
Kita diajarkan untuk hidup normal. Seperti sekolah, lalu kuliah, lalu tamat, lalu bekerja. Terus apa ? Nikah dong tentunya.
Jadi ketika sudah dapat kerja. Para orang tua sudah mulai gelisah ingin anaknya menikah.
Seolah-olah tidak ada pencapaian lain dalam hidup.
Kebiasaan terus-terusan bertanya kapan nikah atau sudah punya pacar ini juga buruk.
Kepo banget sih, kebiasaan sibuk ngurusin hidup orang lain ya. Pengangguran apa gak bahagia sama hidupnya sih biasanya.
Bahkan ada beberapa teman yang malas pulang kampung karena kesel ditanyain melulu soal ginian.
Gila sih, merusak tali silaturahmi banget.
Kebetulan keluarga gue dan teman ini sama sekali gak menjunjung tinggi pernikahan. Meskipun kami perempuan.
Anak perempuan lebih dari sekedar tanggungan yang buru-buru harus dilepas.
Anak perempuan bukan barang dagangan yang harus dibanggain kalau laku. Supaya gak malu sama toko-toko sebelah.
Pencapaian anak perempuan lebih dari sekedar bisa menikah.
Masih banyak prestasi lain yang bisa dibanggakan. Sekolah tinggi, pekerjaan yang baik, atau berguna bagi orang banyak.
Tumbuh di keluarga yang bisa lebih menghargai anak perempuan menjadikan kami gak pernah berpikir soal menikah.
Masih banyak hal yang bisa di-explore di dunia ini. Life spend masih panjang. Begitu banyak hal yang masih bisa diraih.
Maka kami berpikir keluarga adalah yang paling besar mempengaruhi teman-teman di generasi kami kebelet nikah.
Jadi berhentilah bertanya atau mendesak anak soal pernikahan. Semua orang punya petualangan hidupnya masing-masing.
Kita sebagai teman juga jangan memberi insentif lebih. Banyak hal yang bisa dibanggakan selain punya kekasih atau akhirnya bisa menikah.
Jomblo seolah-olah menjadi komoditi. Banyak orang jadi takut sendiri. Mereka berlomba-lomba melepas status single. Bahkan banyak yang rela melakukan segala cara.
Hargai setiap pilihan orang lain. Gak nikah juga gak dosa kan.
Terpenting kan bahagia. Orang yang bahagia itu gak akan sibuk nyakitin orang lain. Gak rese lah.
Gue hampir tidak pernah mendoakan orang ketika ulang tahun untuk segera punya pacar, nikah, langgeng atau semacamnya. Hal yang gue doakan adalah supaya bahagia. Karena bahagia itu mencakup semuanya. Karena bahagia tiap orang itu beda-beda versinya. Bisa aja itu bukan bahagia yang mereka mau kan.
Nampaknya kebiasaan ini wajib ditularkan.
Gue juga bukan anti pernikahan.
Companionship juga membahagiakan.
Hanya gak ingin orang-orang menaruh standard yang sama untuk kebahagaiaan tiap orang.
Gak semua jomblo pengen punya pacar.
Gak semua orang pacaran pengen nikah.
Maka hargai keputusan tiap orang. Semua punya jalannya masing-masing.
Untuk Indonesia yang lebih selow.
Untuk bangsa yang mengurangi kepo.
Untuk generasi yang tidak masalah kalau jomblo..

Berbeda Wajah

Seorang teman sebut saja X mengeluhkan soal salah satu teman, yaitu Y yang kelihatannya berubah.
Si Y bergaul sama genggong bitch di kantornya. Bertingkah seolah-olah jadi bitch juga. Kelihatannya menikmati. Tapi nanti datang ke X cerita kalau sebenarnya Y gak suka sama genggong itu.

Kalau gue perhatikan polanya sejak dulu. Teman gue ini, si Y memang seperti itu. Di depan orang banyak dia akan bertingkah gimana. Nanti sama peer group-nya dia akan jadi kebalikannya.
Di depan orang-orang dia seolah wanita independent. Tapi ikut ini itu harus ijin pacarnya.
Dia tunjukin ke dunia kalau dia bitch, pacarnya gak penting. Tapi dia setia bertahun-tahun, bahkan bacin.
Dia tampilkan ke orang-orang kalau dia ambi sama kerjaannya. Tapi sebenarnya dia ingin berhenti dan cari kerja lain.
Dia buat orang-orang berpikir kalau dia wanita strong tak butuh lelaki. Nyatanya dia ingin menikah layaknya wanita normal lainnya.

Awalnya gue berpikir bahwa ini caranya dia untuk melindungi diri agar tidak mudah disakiti. Istilahnya sikapnya dia untuk mengamankan dia. Jadi dia bisa apa adanya cuma di depan orang terdekat.
Di satu sisi gue setuju, pasti kita cuma bisa apa adanya sama orang yang benar-benar dekat dengan kita kan.
Tapi apa memang harus sampai berubah jadi orang lain ?
Lama-lama gue mikir ini bukan cara dia untuk melindungi diri atau bagaimana. Kesimpulan yang gue dapat dia ingin bisa mingle sama semua orang. Dia ingin diterima sama banyak orang.

Baru aja di kantin kantor seorang teman bilang kalau salah satu teman kantor kita sering berpura-pura kuat.

"Padahal kita harusnya jadi diri sendiri ya Jeng. Tapi itu sulit sekali." ujarnya.

Kalau kita bisa menerima diri kita sendiri dengan jujur. Bukannya nanti jadi sangat mudah untuk melalui apapun.
Kenapa harus sampai memodifikasi diri ?
Kita memang gak bisa dekat dengan semua orang.
Kita juga gak bisa bahagiain semua orang karena kita kan manusia.
Setakut itukah untuk jadi diri sendiri ?
Kalau kamu aja gak bisa nerima diri kamu. Gimana orang lain bisa ?
Apa gak capek berpura-pura jadi orang lain ya ?

Jadi ingat salah satu cerita di Komik Mafalda.
Waktu itu dia baca nasehat tentang "Kenali Dirimu" lalu dia cerita ke Felipe.
Kemudian Felipe ingin mengenali dirinya sendiri. Ia akan mencari dirinya sendiri dan tak akan berhenti sampai menemukannya. Lalu dia berkata:

"Tapi gimana kalau aku gak suka sama diriku sendiri Mafalda ?"

Mungkin teman-teman gue seperti Felipe.

Jumat, 15 April 2016

Atas Nama Sayang

Ada yang bilang pisahin kehidupan pribadi dan pekerjaan. Jangan berteman dekat sama orang di kantor. Jangan cerita masalah pribadi sama rekan kerja. Be profesional, katanya. Kerja ya kerja aja. Gak perlu melibatkan kehidupan pribadi.

Tapi gimana caranya ? lima hari dalam seminggu, bahkan bisa lebih. Sehari juga bisa lebih dari delapan jam bareng. Gimana caranya gak berteman dekat ? Gimana caranya gak berbagi ? Secara mereka yang kita temuin setiap hari.

Berbagai hal di kehidupan gue dan beberapa teman yang seangkatan (gue akan sebut sebagai "kami" saja untuk lebih lanjut) selalu dikomentarin. Apapun. Ketika pacaran, nikah, apalagi punya bayi, sampai hal gak penting macam semprot parfum aja dikomentarin, dihakimi, diketawain, dijadiin lelucon.

Awalnya gue mikir  apa ini karena gue yang cengeng, sensi atau letoy aja cem permen yupi. Tapi ternyata enggak. Bukan cuma gue yang ngerasain, tetapi ada beberapa orang juga yang suka jadi objek becandaan. Iya, yang masih muda-muda.

Gue berpikir bahwa ini karena gue memang suka cerita-cerita aja. Lalu gue mulai ngurangin cerita. Akan tetapi temen gue yang gak suka cerita juga kena. Ternyata bukan membagi kehidupan pribadi masalahnya. Tetapi di respon merekanya.

Gue dan beberapa orang kantor ada kok yang suka berbagi masalah yang bahkan sangat-sangat pribadi. Tetapi responnya tidak seperti mereka-mereka itu. Mereka mengerti, supportive, dan tidak mengejek. Bukannya harus selalu didukung dalam keadaan apapun. Ya yang macam gitu juga bukan teman yang baik namanya. Tapi kan bisa gak judgemental dan membandingkan. Selalu merasa hidupnya paling beres.

Maaf bukannya sexist, tapi mereka yang gue maksud mayoritas perempuan. Sedangkan mereka yang supportive dan gak judgy itu adalah laki-laki. Gue benci sebenarnya harus bandingin secara gender gini. Tapi kenyataan ngomong gini. Ya walaupun ada juga perempuan di kantor yang seiring bertambahnya umur juga makin dewasa. Tapi jumlahnya dikit, kalau pria mah rata.

Lalu mereka klaim dirinya dewasa. Tapi kelakuannya begitu. Jadi kami yang muda-muda ini harus ngalah. Lah terus jadinya yang dewasa siapa haha.

Mereka selalu mengatasnamakan sayang...peduli...makanya dengan mudahnya berkomentar dan nasehatin soal apapun yang sedang terjadi di kehidupan kami. Itu bukan sayang namanya, itu bukan peduli namanya.

Kalau sayang aturannya mengerti, kalau sayang aturannya gak judgy. Kalau peduli ya dukung. Bukan menjatuhkan, membanding-bandingkan, atau mengejek. Apa yang kalian lakukan selama ini bukan sayang atau peduli, Tapi emang rese aja.

Pertemanan itu dua arah, kalau gue tetap bertahan berarti gue juga punya andil. Makan aja bisa milih kan, apalagi teman. Sebelum kita milih tempat makan, gadget, atau liburan aja riset dulu. Apalagi yang lebih penting gini dalam hidup.

Mungkin ini saatnya menjauh dan berganti teman.