Selasa, 05 Juli 2016

Pengakuan dan Kelakuan

Seorang sahabat bercerita, rencananya setelah lebaran dia akan menggunakan jilbab.
Lalu gue diam...speechless haha.
Respon pertama gue adalah menanyakan alasannya apa.
Dia menjawab tidak ada alasan.
Lalu gue bilang, kalau katanya Bape dalam hal apapun harus punya alasan. Jadi kalau kita goyah atau melenceng bisa kembali ke alasan tersebut. Tapi di satu sisi gue menambahkan, pasti ada beberapa keputusan dalam hidup kita yang tanpa alasan, karena pengen aja.

Lalu dia menjelaskan semuanya.

Hal yang gue bilang adalah, yang penting kamu bahagia. Apapun keputusanmu. Apapun langkah yang ingin kamu ambil dalam hidupmu. Aku gak peduli apakah itu perintah Tuhan atau kitab suci. I will support you, yang penting kamu yakin, percaya, dan bahagia.

Paling menyentuh sampai gue ingin menulis ini adalah tanggapannya.
"Aku seneng deh, kenapa kamu yang bukan Muslim malah lebih bisa nerima keputusanku dibanding sahabat or saudaraku yg Muslim."

Gue tersenyum

"Aku gak pernah tau agamamu apa. Aku gak pernah liat kamu sembahyang. Menurutku, kamu gak dekat dengan Tuhan. Tapi kenapa justru kamu yang bisa menanggapi soal ini dengan lebih baik."

Apa jawaban gue?

Karena kita gak butuh agama kalau hanya soal beginian. Kita butuhnya pikiran yang terbuka. Gak ada hubungannya seagama atau gak. Kalau pikirannya sempit, mau hapal kitab suci juga percuma.
Karena gue gak terikat dengan agama apapun that's why gue gak punya prejudice atas sikap-sikap semacam ini.

Sesungguhnya gue agak miris. Masih ada saja orang berpendidikan memandang orang hanya dari rajinkah dia sembahyang atau suka nyebut ayat sucikah dia . Lagi pula, dari mana taunya orang itu dekat sama Tuhan or enggak. Cuma dari rajin ibadah?
Itu semua gak linear sayang. Religion is an illusion.
Pemuka agama juga ada yang memperkosa kok. Orang atheis juga banyak yang rajin menolong orang lain.
Beragama gak menjamin kamu orang baik. Begitu pula sebaiknya.
Semoga di hari yang fitri ini, kita gak beragama cuma di seremoni semata. Tapi juga tercermin di perilaku.
Karena dalam hidup yang penting itu kelakuan. Bukannya pengakuan.

*Soekarno-Hatta di kala Lebaran