Sabtu, 21 Mei 2016

Generasi Kebelet Nikah

Baru saja ketemu teman rock star, sesama gadis ambi yang juga feminist.
Banyak topik yang kami bahas, perdebatkan hingga menarik simpulan. Salah satunya tentang keheranan kami kenapa begitu banyak teman-teman seumuran yang galau bet pengen nikah.
Kami bahas teman-teman kami yang sudah menikah, berikut alasannya. Gue memang selalu bertanya alasan menikah ke teman-teman terdekat.
Ada yang menikah karena ngerasa kuat bersama. Dia ngerasa lebih kuat aja buat ngejalanin hidup ke depannya sama suaminya.
Lalu gue mikir, kenapa kita harus bareng orang ya buat jadi kuat ? Gak bisakah kita kuat dengan diri kita sendiri saja ?
Paling lucu ada teman yang pengen nikah karena ingin ke luar dari rumah. Ini sih gawat ya. Cara ke luar dari rumah kan banyak. Sekolah atau kerja yang jauh misalnya. Kenapa jadi mengambil pilihan yang sangat beresiko buat masalah yang sederhana seperti tidak ingin tinggal di rumah.
Bisa jadi sebenarnya dia juga takut ke luar rumah. Gak berani ambil resiko dengan tinggal sendiri. Kalau nikah dia bisa ke luar rumah tapi bareng orang lain dan bisa bersandar.
Trust me, takut sendiri is the root of most bad choices in life.
Alasan paling common adalah supaya halal. Sebagai orang yang tidak religius gue paling susah bisa nerima alasan ini. Jadi lo nikah buat melegalkan seks doang. Buset picik banget.
Riset berkata, usia paling pas untuk perempuan menikah adalah sekitar 25 tahun. Sedangkan pria menuju 30 tahun. Karena di usia segini baik pria dan wanita otaknya gak cuma nafsu doang. Jadi menikahnya bukan karena nafsu semata.
Mungkin riset ini bisa jadi pertimbangan.
Banyak sekali teman-teman terutama perempuan yang kalau tiap kumpul bahasannya pengen nikah melulu. Seolah tidak ada topik lain. Nikah itu boleh kok. Silahkan saja. Tapi bisa kan gak sampai gila ngebetnya.
Kenapa sih rasanya nikah itu harus banget ? Gak bisa santai aja gitu.
Ada artikel yang pernah ngebahas ini, menurut penulisnya karena kita terbuai sama cerita dongeng Cinderella yang ketemu pangeran tampan lalu hidup bahagia.
Menurut gue ada yang lebih mendasar dari sekedar pengaruh media.
Jawabannya adalah keluarga.
Budaya ketimuran ini selalu memandang pencapaian hidup, terutama perempuan itu dari penerimaan oleh orang lain.
Itu mengapa image "perawan tua" gak banget di negara ini.
Itu kenapa punya pasangan rasanya membanggakan sekali.
Maka label "laku" jadi penting.
Kita diajarkan untuk hidup normal. Seperti sekolah, lalu kuliah, lalu tamat, lalu bekerja. Terus apa ? Nikah dong tentunya.
Jadi ketika sudah dapat kerja. Para orang tua sudah mulai gelisah ingin anaknya menikah.
Seolah-olah tidak ada pencapaian lain dalam hidup.
Kebiasaan terus-terusan bertanya kapan nikah atau sudah punya pacar ini juga buruk.
Kepo banget sih, kebiasaan sibuk ngurusin hidup orang lain ya. Pengangguran apa gak bahagia sama hidupnya sih biasanya.
Bahkan ada beberapa teman yang malas pulang kampung karena kesel ditanyain melulu soal ginian.
Gila sih, merusak tali silaturahmi banget.
Kebetulan keluarga gue dan teman ini sama sekali gak menjunjung tinggi pernikahan. Meskipun kami perempuan.
Anak perempuan lebih dari sekedar tanggungan yang buru-buru harus dilepas.
Anak perempuan bukan barang dagangan yang harus dibanggain kalau laku. Supaya gak malu sama toko-toko sebelah.
Pencapaian anak perempuan lebih dari sekedar bisa menikah.
Masih banyak prestasi lain yang bisa dibanggakan. Sekolah tinggi, pekerjaan yang baik, atau berguna bagi orang banyak.
Tumbuh di keluarga yang bisa lebih menghargai anak perempuan menjadikan kami gak pernah berpikir soal menikah.
Masih banyak hal yang bisa di-explore di dunia ini. Life spend masih panjang. Begitu banyak hal yang masih bisa diraih.
Maka kami berpikir keluarga adalah yang paling besar mempengaruhi teman-teman di generasi kami kebelet nikah.
Jadi berhentilah bertanya atau mendesak anak soal pernikahan. Semua orang punya petualangan hidupnya masing-masing.
Kita sebagai teman juga jangan memberi insentif lebih. Banyak hal yang bisa dibanggakan selain punya kekasih atau akhirnya bisa menikah.
Jomblo seolah-olah menjadi komoditi. Banyak orang jadi takut sendiri. Mereka berlomba-lomba melepas status single. Bahkan banyak yang rela melakukan segala cara.
Hargai setiap pilihan orang lain. Gak nikah juga gak dosa kan.
Terpenting kan bahagia. Orang yang bahagia itu gak akan sibuk nyakitin orang lain. Gak rese lah.
Gue hampir tidak pernah mendoakan orang ketika ulang tahun untuk segera punya pacar, nikah, langgeng atau semacamnya. Hal yang gue doakan adalah supaya bahagia. Karena bahagia itu mencakup semuanya. Karena bahagia tiap orang itu beda-beda versinya. Bisa aja itu bukan bahagia yang mereka mau kan.
Nampaknya kebiasaan ini wajib ditularkan.
Gue juga bukan anti pernikahan.
Companionship juga membahagiakan.
Hanya gak ingin orang-orang menaruh standard yang sama untuk kebahagaiaan tiap orang.
Gak semua jomblo pengen punya pacar.
Gak semua orang pacaran pengen nikah.
Maka hargai keputusan tiap orang. Semua punya jalannya masing-masing.
Untuk Indonesia yang lebih selow.
Untuk bangsa yang mengurangi kepo.
Untuk generasi yang tidak masalah kalau jomblo..

Berbeda Wajah

Seorang teman sebut saja X mengeluhkan soal salah satu teman, yaitu Y yang kelihatannya berubah.
Si Y bergaul sama genggong bitch di kantornya. Bertingkah seolah-olah jadi bitch juga. Kelihatannya menikmati. Tapi nanti datang ke X cerita kalau sebenarnya Y gak suka sama genggong itu.

Kalau gue perhatikan polanya sejak dulu. Teman gue ini, si Y memang seperti itu. Di depan orang banyak dia akan bertingkah gimana. Nanti sama peer group-nya dia akan jadi kebalikannya.
Di depan orang-orang dia seolah wanita independent. Tapi ikut ini itu harus ijin pacarnya.
Dia tunjukin ke dunia kalau dia bitch, pacarnya gak penting. Tapi dia setia bertahun-tahun, bahkan bacin.
Dia tampilkan ke orang-orang kalau dia ambi sama kerjaannya. Tapi sebenarnya dia ingin berhenti dan cari kerja lain.
Dia buat orang-orang berpikir kalau dia wanita strong tak butuh lelaki. Nyatanya dia ingin menikah layaknya wanita normal lainnya.

Awalnya gue berpikir bahwa ini caranya dia untuk melindungi diri agar tidak mudah disakiti. Istilahnya sikapnya dia untuk mengamankan dia. Jadi dia bisa apa adanya cuma di depan orang terdekat.
Di satu sisi gue setuju, pasti kita cuma bisa apa adanya sama orang yang benar-benar dekat dengan kita kan.
Tapi apa memang harus sampai berubah jadi orang lain ?
Lama-lama gue mikir ini bukan cara dia untuk melindungi diri atau bagaimana. Kesimpulan yang gue dapat dia ingin bisa mingle sama semua orang. Dia ingin diterima sama banyak orang.

Baru aja di kantin kantor seorang teman bilang kalau salah satu teman kantor kita sering berpura-pura kuat.

"Padahal kita harusnya jadi diri sendiri ya Jeng. Tapi itu sulit sekali." ujarnya.

Kalau kita bisa menerima diri kita sendiri dengan jujur. Bukannya nanti jadi sangat mudah untuk melalui apapun.
Kenapa harus sampai memodifikasi diri ?
Kita memang gak bisa dekat dengan semua orang.
Kita juga gak bisa bahagiain semua orang karena kita kan manusia.
Setakut itukah untuk jadi diri sendiri ?
Kalau kamu aja gak bisa nerima diri kamu. Gimana orang lain bisa ?
Apa gak capek berpura-pura jadi orang lain ya ?

Jadi ingat salah satu cerita di Komik Mafalda.
Waktu itu dia baca nasehat tentang "Kenali Dirimu" lalu dia cerita ke Felipe.
Kemudian Felipe ingin mengenali dirinya sendiri. Ia akan mencari dirinya sendiri dan tak akan berhenti sampai menemukannya. Lalu dia berkata:

"Tapi gimana kalau aku gak suka sama diriku sendiri Mafalda ?"

Mungkin teman-teman gue seperti Felipe.